Minggu, 24 April 2011

Hisaniyah Kota Pontianak Gelar Bahtsul Masa’il

Malam Minggu (26/03), di Aula Wakil Walikota Pontianak, Hisaniyah Kota Pontianak mengelar Bahtul Masa’il. Dengan tema “Menjunjung tinggi ajaran, menggenggam erat tradisi, membuka luas cakrawala berfikir dan menggalang kuat solidaritas untuk menatap dan mengyongsong masa depan”. Acara ini dihadiri oleh Paryadi MM, Wakil Walikota Pontianak.
Ketua Panitia Syaiful Ilmi, M.S.I menjelaskan tujuan dari diadakan Bahtsul Masa’il ini pertama adalah untuk silahturahmi diantara kalangan santri, baik itu santri yang bergerak di bidang gesrot akar rumput. Kemudian yang kita pentingkan itu adalah santri-santri yang memang mempunyai posisi penting dipemerintahan atau di pendidikan, yang mana ini adalah untuk menyamakan visi kedepan.
Kedua, ingin merumuskan sebuah prodak hukum, yang mana hukum ini, Karena ada khasus yang tidak bisa diselesaikan oleh MUI. Atau lebih disederhananya lagi ada perumusan hukum dari pelaksanaan Bahtul Masa’il ini, di Indonesia itu belum berlaku khasusnya, tetapi perangkat hukumnya akan kita siapkan. Salah satu contohnya adalah kuburan masal itu, dibongkarkan kembali kemudian tulang-benulangnya digumpulkan menjadi satu dan tulang itu dikuburkan lagi jadi satu lobang. “Nah, di ahli sunnahnya belum ada perangkat hukumnya,” katanya.
Kemudian tujuan yang ketiga, untuk menyamakan visi kedepan dikalangan alumni dan untuk memberikan motivasi yang lebih dalam bagi untuk para santri-santri, karena ada pandangan sebagian dari kalangan santri kalau pendidikan umum itu, tidak terlalu penting bagi mereka. Mungkin ini berdasarkan pada kemampuan mereka dibidang ekonomi, dan lingkungan yang sangat mempengaruhi mereka.
Jadi memang diharapkan dengan diadakan Bahtul Masa’il ini, bisa merubah pandangan masyarakat selama ini bahwasanya kalangan pesantrin itukan masyarakat kelas dua. “Pada hal kalau kita mengkaji sejarah pesantren itu adalah pendidikan tertua di Indonesia,” jelasnya. Jadi dengan adanya kegiatannya ini, apa lagi dipasilitasi oleh wakil walikota, diharapkan membuka dan merubah pandangan masyarakat selama ini, tentang santri.
Harapan dosen yang mengajar mata kuliah Masail Fiqhiyah Al Haditsah di Jurusan Dakwah STAIN Pontianak ini, santri itu tidak hanya berkiprah dibidang keagamaan saja, tetapi harus lebih banyak untuk berkiprah di bidang pemerintahan atau sosial. Sehingga santri yang ada di Kalbar khsusnya, itu jelas kontribusinya terhadap pemerintah. Kemudian santri tidak hanya menimba ilmu di pesantren, tetapi yang kami harapkan santri itu bisa menimba ilmu di perguruan tinggi agama atau perguruan umum. Karena pertimbangannya, kalau hanya santri itu mempunyai pengetahuan dan memodalkan pesantren, itu nampak akan timbul semacam panatisme mazhab. Tetapi yang kita pentingkan dari perguruan tinggi itu adalah mereka bisa menguasai ilmu metodologi. Karena pesantrin itu sangat lemah di bidang ilmu metodologi. (hakim/*).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar